Iman kepada Allah

Tausyah Ustad Muhammad Nasihin di Majelis Ar-Ridwan Wilayah Kota Batu, Selasa, 16 September 2014

0
1232
Tausyah Ustad Muhammad Nasihin Majelis Ar-Ridwan

Tausyah Ustad Muhammad Nasihin Majelis Ar-Ridwan

MajelisArRidwan.org – Iman kepada Allah. Berikut ini rangkuman tausyah Ustad Muhammad Nasihin pada Majelis Ar-Ridwan Wilayah Kota Batu, Selasa, 16 September 2014.

Diawali dengan mengucap Bismillah, Hamdallah, Sholawat, dan Doa.

Syukur kepada Allah SWT kita diberi taufik dan hidayah untuk bisa hadir Majelisnya Rasulullah SAW.

Pengajian Kitab Risalatul Jami’ah bab Aqidah (aqidah yang benar).

Islam yang tersebar di Indonesia ini tidak terlepas dari berkah Wali Songo yang dahulunya menyebarkan Islam di Indonesia. Islam di Indonesia sebagian besar adalah Ahlussunnah Wal Jamaa’ah yang ini merupakan kelompok yang paling banyak di dunia, dan inilah kelompok yang selamat.

Sekarang banyak muncul kelompok-kelompok baru, terlebih JIL (Jaringan Islam Liberal). Kita harus berhati-hati terlebih saat ini dalam buku kurikulum 2013 dalam buku SKI kelas 7 menyatakan bahwa kuburan para wali adalah berhala jaman sekarang.

Ahlussunnah Wal Jama’ah adalah yang diajarkan Rasulullah SAW, ditetapi oleh para sahabat Rasulullah SAW. Secara ilmiah Ahlussunnah Wal Jama’ah yakni mengikuti 4 mahzab yang mu’tamat yaitu Hanafiyah (Imam Hanafi), Malikiyah (Imam Malik bin Anas), Syafi’iyah (Imam Syafi’i), dan Hanbaliyah (Imam Hanbali).

Semisal Subuh ada yang menggunakan Qunut (Imam Syafi’i) disunnahkan, sedangkan Imam yang lain ada yang tidak disunnahkan Qunut. Tapi sekarang banyak yang saling menyalahkan hanya karena berbeda memakai qunut atau tidak padahal 4 mahzab itu termasuk Ahlussunnah Wal Jama’ah.

Secara Aqidah, kelompok Ahlussunah Wal Jama’ah itu tidak keluar dari Imam Abul Hasan Al-Asy’ari (Asy-Syariyah) dan Imam Abu Mansyur Al-Maturidi (Al-Maturidiyah).

Hakikat Iman adalah percaya terhadap apa saja yang telah dibawa oleh Rasulullah Nabi Muhammad SAW.

Rukun Iman dalam Islam antara lain:
– Iman kepada Allah SWT
– Iman kepada Malaikat Allah
– Iman kepada Kitab Allah
– Iman kepada Rasul-rasul Allah
– Iman kepada Hari Akhir
– Iman kepada Qodho dan Qodar

A) Allah itu wujud/ada
Kita harus meyakini bahwa Allah SWT itu wujud dan ada. Sesuatu yang ada itu tidak harus tampak.

Ada 3 hal yang semua orang tahu tanpa harus belajar antara lain:
1) Tahu bahwa dirinya itu makhluk, dan pasti punya pencipta
2) Membutuhkan makan
3) Takut mati, contohnya ialah lalat yang kabur ketika mau dibunuh

Bukti lain dari adanya Allah SWT selain dari adanya ciptaan-Nya yaitu rencana yang gagal meskipun sudah direncanakan sesempurna mungkin.

B) Allah itu zat yang esa
– Islam itu bukan seperti orang nasrani yang memahami konsep tuhan trinitas, oleh karena itu MUI juga telah memfatwakan haram menikah dengan wanita selain muslimah
– Allah tidak memiliki kesepadanan dengan makhluknya dalam sifat maupun zat-Nya
– Allah itu tunggal, tidak ada duanya
– Allah itu tidak terbatas kekuasaannya
– Allah itu tidak sama dengan apa yang ada pada diri kita.

C) Allah itu zat yang maha melihat dan maha mendengar
Imam Junaid dididik oleh pamannya dengan didikan Robbaniyah. Pamannya senantiasa mengajarkan wirid sebelum tidur “Allah ma’i, Allah nadhiri, Allah sya’idi” (Allah bersamaku, Allah melihatku, Allah menyaksikanku). Oleh pamannya, Imam Junaid dianjurkan membaca wirid tersebut secara lisan selama satu bulan pertama, kemudian satu bulan berikutnya dibaca dalam hati. Ketika dewasa, Imam Junaid tidak ada keinginan untuk bermaksiat kepada Allah.

D) Allah menciptakan kehidupan dan kematian
Kehidupan kita adalah hadiah dari Allah SWt, maka manfaatkan dengan sebaik-baiknya. Hakikat kehidupan adalah ilmu (diterangi dengan ilmunya Allah SWT). Maka jika orang tak berilmu, ibaratnya dia seperti mayat hidup, dhohirnya yang bergerak namun jiwanya mati tidak diterangi oleh ilmunya Allah SWT, syariat dan tuntunan yang diajarkan Rasulullah SAW.

E) Allah menciptakan taat dan maksiat
Allah menciptakan taat dan maksiat namun Allah tidak ridho dengan perbuatan maksiat, sehingga diturunkanlah oleh-Nya para Anbiya, serta kitab-kitab Allah guna menuntun manusia menjauhi dan meninggalkan maksiat. Manusiapun diberi akal yang membedakan makhluk Allah lainnya sebagai hujjah Allah nantinya, yang mana dengan akal disertai ilmu, manusia mampu membedakan mana taat dan mana yang maksiat, dan Allah akan memintai pertanggungjawaban nantinya dengan hujjah akal yang telah diberikan Allah pada manusia untuk berpikir dan membedakan, ditambah dengan diturunkan para Anbiya dan kitab-kitab Allah. Maka jika ada manusia yang pasrah terhadap maksiat, mengatakan maksiat itu sudah takdir, maka hakikat orang tersebut adalah bodoh.

Doa agar senantiasa dapat berbuat taat, syukur, termasuk mengingat Allah:
Dari Sahabat Muadz bin Jabal “Allahumma a’inni ‘ala dzikrika wa syukrika wa husni ibadatik.” (admin)