Tak Bermadzhab dan Keluar dari Aswaja Memicu Fitnah

0
983

Pada hari Ahad, 9 Oktober 2016, bertempat di Aula Pertamina Politeknik Negeri Malang, Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Malang menyelenggarakan Seminar Ahlussunnah Wal-Jama’ah. Gelaran ini mengambil tema “Melawan Ekstrimisme: Menjaga NKRI dn Aswaja di Tengah Tantangan Ideologi Global”.

Pembicara pada seminar yang berlangsung sejak pagi hingga siang itu adalah Pengasuh Pesantren Anwarut Taufiq, Batu sekaligus pengasuh Majlis Taklim wal-Maulid ar-Ridwan Malang Raya, yang juga peserta Muktamar Ahlussunnah Wal-Jama’ah di Grozni, Chechnya, Habib Ahmad Jamal Toha Ba’aqil. Sedangkan pemateri kedua adalah pengamat Timur Tengah asal Libya, Dr. Sulaiman Hassan Sulaiman.

Habib Jamal menyampaikan materi tentang Aswaja dalam konteks amaliah global berdasarkan pengalaman beliau mengikuti beberapa Seminar Internasional, baik di Abu Dhabi maupun di Grozni, Checnya. Selain itu, alumni Darul Musthofa Hadramaut Yaman ini membahas pula tentang perebutan klaim Aswaja dan sikap jama’ah Nahdliyyin, serta bagaimana menghidupkan Aswaja dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan Nahdliyyin.

Sementara Dr Sulaiman Hassan Sulaiman membahas tentang pergolakan politik Timur Tengah hingga hari ini, lalu bagaimana memahami kepentingan dan skenario konflik lintas mazhab atau kelompok keagamaan. Alumni Universitas Tripoli dan Zaitunah ini juga menyajikan solusi dan usulan, yaitu bagaimana menyajikan wajah Islam hakiki, khususnya di era saat ini.

Habib Jamal dalam paparannya banyak berbagi informasi dari berbagai seminar internasional yang beliau ikuti. Pada muktamar di Abu Dhabi misalnya, terungkap fakta mencengangkan tentang menaiknya tingkat atheisme (ilhad) masyarakat muslim. Data yang terungkap melalui angket di berbagai negara Islam itu menyatakan, tingkat ketidakkepercayaan masyarakat terhadap agama banyak disebabkan oleh perilaku ekstrimisme yang “ditampilkan” beberapa kalangan dewasa ini. Kekerasan atas nama agama itu justru membuat masyarakat tidak lagi percaya pada agama.

Sementara pada bagian berikutnya, pengasuh Majlis Taklim wal-Maulid ar-Ridwan itu memaparkan beberapa poin penting Muktamar Chechnya. Pada bagian awal, diidentifikasi siapakah Ahlussunnah Wal Jama’ah itu dan apakah keistimewaannya?

Dijelaskan, Ahlussunnah wal Jama’ah adalah mereka yang berpegangan pada Akidah Asy’ariah dan Maturidiah, pemahaman Fiqih empat madzhab, baik Ushul maupun Furu’, dan menitikberatkan ilmu tasawwuf untuk suluk. Sedangkan keistimewaan akidahnya adalah mempunyai asas yang menggabungkan akal dan nash dalam berkhidmah kepada agama Allah, hingga mampu menepis segala bentuk keyakinan yang bersumber dari filsafat yang sesat dan pemahaman sempit sebagian orang yang hanya bersandar pada dalil naqli.

Keistimewaan fiqh empat madzhab adalah kemampuannya membuat pondasi dalam berinteraksi dengan wahyu, hingga mereka bisa mengetahui mana hukum yang dapat berubah dan mana yang tidak dapat berubah. Sementara keistimewaan ilmu tasawuf adalah ajaran yang murni tanpa diikuti oleh hawa nafsu. Imam al-Junaid r.a berkata, “Tasawuf berkaitan dengan kitab dan sunnah. Jika tidak, maka bukanlah tasawuf.” Al-Khawwas menjelaskan, “Thariqah tasawuf pondasinya adalah Kitab dan Sunnah – seperti rajutan emas, karena itulah para ahli tasawuf tidak diam atau duduk, bahkan besitan hati, kecuali ditimbang dengan timbangan syariah.”

Muktamar Chechnya menegaskan, Aswaja senantiasa menjadi keyakinan mayoritas Islam di setiap zaman. Hal ini menicyakan kekuatan fakta hukum yang setara dengan ijma’ atau konsensus ulama. Imam Syathibi berkata, “Jadilah engkau berkeyakinan dengan keyakinan mayoritas Islam.” Lalu, siapakah mayoritas Aswaja di setiap zaman? Mereka adalah Asya’irah dan Maturidiyah, serta Ahlu al-Hadits. Pada rekomendasinya, Muktamar menegaskan bahwa Ahlu al-Hadits memiliki keyakinan tafwidh, atau “pasrah” mengenai makna sifat-sifat Allah. Ahlu al-Hadits yang Aswaja tidak memiliki keyakinan tajsim (penjasmanian Allah) dan tasybih (menyerupakan Allah dengan makhluk).

Muktamar juga mengingatkan pentingnya bermadzhab dan dampak negatif bagi orang-orang yang tidak mengikuti madzhab. Merujuk pada kitab Syaikh Muhammad Sa’id Ramadhan al-Buthi, yaitu Allamadzhabiyah, seseorang yang tidak bermadzhab akan mengeluarkan fatwa seenaknya hingga timbul perbedaan pendapat di masyarakat. Hasil akhirnya adalah kerusakan di mana-mana.

Muktamar Ahlussunnah Wal-Jama’ah di Chechnya juga mengingatkan tentang dampak nyata bagi orang yang keluar dari Aswaja. Berbagai dampaknya adalah orang tersebut akan memiliki wawasan sempit, menghembuskan perseteruan dan kebencian, memperkeruh perbedaan, di mana terkadang masalah fiqhiyah furu’iyyah dijadikan masalah akidah, dan sulit menerima perbedaan.

Dampak lain adalah mempersempit pemahaman Aswaja, dalam arti akan mengeluarkan pengikut Asy’ari dan Maturidi dari Aswaja dan mengklaim dirinya sendiri sebagai Sunni. Keluar dari pemahaman Aswaja juga akan menyebabkan fitnah antar kelompok, merusak makna jihad, mempermainkan agama dengan mengeluarkan fatwa padahal dia bukan ahlinya, mengabaikan pentingnya nilai kemanusiaan, menciptakan aturan menyimpang dari keyakinan dan hukum.

Poin terakhir ini akan menyebabkan pemahaman dan sikap yang makin muncul dewasa ini, yaitu sikap hakimiyah, jahiliyah, al-wala wa al-bara, klaim sebagai firqah najiyah, dan sebagainya.

Wallahu al-Musta’an.

ditulis oleh Ustad Faris Khoirul Anam